#8Dn2
Gadis Pukul Empat
(cerpen karya ; Doni Widodo)
Raut
wajahnya tak seceria ketika di stasiun sore itu, tidak juga bergaun merah
dengan setelan muslimahnya yang membuat teduh kala aku memandanginya. Teduhnya
kini menjadi muram menyimpan sibak penuh tanya rahasia, sebelumnya bagai bunga
pukul empat yang mekar di sore hari kini seperti sore di siang hari. Menyadari
bahwa kau bukan si gadis sore itu, aku tetap mengagumimu walau kita dibatasi
alam yang berbeda. Aku juga yakin bahwa hadirmu menemuiku tidak akan membawaku
pada keburukan yang mencelakakanku.
Aku
memutuskan untuk kembali ke laptopku lagi, kembali pada kegiatanku yang sedari
tadi terabaikan oleh gadis cantik itu. Namun belum lama ketika sedang asyik
dengan si layar besarku, aku merasakan keanehan pada diriku, seakan ada sesuatu
yang akan terjadi di depanku. Sesuatu yang wangi, aku ingin mendongak untuk
melihat sekitarku, tapi aku tak mampu melakukanya, aku tak ingin melewatkan moment
keharuman itu. Belum sepenuhnya aku memahami semerbak wangi tersebut, berganti
telingaku tersadar oleh debuk kaki yang berjalan terketuk-ketuk. Bukan ketukan
kaki-kaki pesibuk ria pengunjung stasiun, sosok yang aku yakini tak kalah
menariknya dengan bau wewangian tadi. Ketukan kaki yang merdu seperti senandung
gendang arab yang di tabuh dalam ruang orkes gendang telingaku. Mataku masih
saja memaksa untuk segera mendongak mencari siapa gerangan si penggoda itu.
Sebelum kepalaku sempat kudongakan indra perabaku lebih dulu menyerobot
penasaran dengan kehadiran sosok itu dengan sok mampu menebaknya begitupun bulu
di lenganku bagai rumput yang yang tertepa angin belenggok seperti menyambut
sesuatu yang melewatinya. Seakan semua indraku berlomba-lomba saling menebak
untuk mendapatkan jawaban, semerbak wangi, medan magnet di bulu kuduku,
hentakan kaki yang terasa semakin jelas keras mendekat. Hingga akhirnya suara
seorang wanita menyapaku, sontak semua indra yang berlomba itu berhenti
menegang karena mata ini yang paling beruntung.
Aku mendongak, seorang wanita muda bergaun
merah itu kembali berdiri di depanku. Ia tersenyum, tak bertanya lagi dan tanpa
berucap sedikitpun ia langsung duduk di sebelahku. aku memandangi lagi gadis
itu, masih seperti sebelumnya. Katanya menunda perjalananya untuk menunggu ibunya dan itu menjadi
kesempatanku bisa ngobrol lebih lama lagi denganya.
Berhari-hari aku masih bertemu dengan gadis
itu, entah kebetulan atau apa. Duduk di tempat yang sama, ngobrol naglor
ngidul. Sampai pada suatu hari frekuensi bertemu dengan gadis itu berkurang,
tak bertemu dengannya membuatku merasa rindu sekaligus penasaran padanya,
mungkin salahku berhari-hari bisa ngobrol denganya tidak menayakan tempat
tinggalnya atau setidaknya sesuatu yang bisa dihubungi. Aku terus mencoba untuk melakukan hal yang sama ketika waktu itu,
bermain laptop di dekat chargeran sambil sesekali mengamati sekitar dengan harapan
bahwa gadis itu akan datang kembali lalu menyapaku.
Akan tetapi pertemuan itu sepertinya hanya
pertemuan kemarin yang sudah berlalu dan takan terjadi lagi. semakin jelas
sepertinya hari itu tidak ada tanda-tanda kedatanganya, sampai menjelang
sorepun tak nampak sosok muncul di pelupuk mataku tidak juga dengan aroma bunga
yang semerbak, yang ada hanya kecut asem dan hambar keringet orang-orang yang
lalu lalang yang terbang bersama udara.
Setiap malam menjelang tidur terbayang wajah
gadis begaun merah itu. Begadang hanya untuk memandangi atap ternit yang menggambarkan
senyum indahnya dan berharap bayang-bayang itu berkata kepadaku bahwa besok
kita akan bertemu.
Hingga pada suatu malam entah mengapa kejadian
yang tidak menyenangkan terjadi padaku, baru sebentar aku terlelap dalam tidur,
aku terbangun oleh sesosok makhluk yang sepertinya seorang wanita. Seluruh
penampakanya berwarna hitam, wajahnya tak terlihat jelas remang-remang tertutup
rambut hitam yang pekat dan kusut. Ia nampak menggodaku dari balik pungungku
seperti membangunkan secara manja , aku menoleh tiba-tiba saja dia menghilang.
Sontak aku langsung terbangun dari tidurku Hatiku menjadi kacau, jantungku
berdetak lebih cepat tak berirama. Aku bisa berulang kali membayangkan sosok
itu, terlihat sangat nyata. Aku terbengong dalam kemerindinganku di tengah
malam.
Semenjak mimpi itu hari-hariku menjadi semakin
tak aku mengerti. Seperti pada kejadian saat sepulang kuliah, aku sedang
menunggu keretaku sekilas aku melihat bayangan gadis itu kembali, bukan bergaun
merah tapi putih, rambutnya yang bergelombang tergerai begitu saja membuatku
bertanya-tanya. Ada apa gerangan dengan penampilanya itu yang sangat kontras
bertolak belakang dengan sebelumnya. Ia memandangiku namun dengan raut wajah
yang kosong. Matanya sayu, kedua tanganya memegang sebuah ranjang kecil yang
nampaknya berisi bunga. Sebagian
bunganya menyembul tergoyah-goyah oleh debur angin dari kereta yang melintas.
Aku terkesiap memandanginya, sampai-sampai aku membiarkan keretaku lewat begitu
saja dan sosok wanita itu juga menghilang.
Kini berganti aku dibayangi sosok wanita
bergaun putih, walaupun aku mencoba menghela semua pikiran itu bahwa semua
mungkin hanya bayang-bayang imajinasiku saja yang terlalu berpikir jauh tentang
gadis itu.
Untuk mengurangi pikiranku yang kelam itu, pada
hari minggu aku putuskan untuk pergi ke
CFD. Aku bangun pagi-pagi buta supaya pergi ke lokasi tidak terlalu siang berharap bisa bertemu dengan sunrise. Kali ini
saya tak sendiri, salah satu teman saya bilang akan ikut. Sejak dari malam dia
menghubungiku agar bisa bertemu sekedar melepas rasa kangen. Dimana dulu kami
sering menghabiskan waktu bersama. Walaupun pada akhirnya dia malah membatalkan
rencana tersebut dengan alasan tak enak badan. Dengan rasa kecewa saya
mengharuskan menerima semua atas rencana pembelaan yang gagal itu. Rela-rela
melepas sunriseku untuk menunggu orang satu itu. Walaupun tidak bertemu sunrise
aku tetap berangkat.
Setibanya di tempat, suasana sudah sangat
ramai dan cukup padat. Aku memulainya dengan berlarian kecil-kecil bergabung
dengan orang-orang.
Tapi entah mengapa aku kembali pada suasana
hatiku yang kelam. Sosok bayangan gadis kembali muncul, bukan bergaun putih tapi
oranye. Dia memandangiku dengan mata kekosongan, kelam, dan suram. Di wajah
pucatnya itu terselip sekuntum bunga di salah satu sisi atas telinganya. Aku
mencoba mengira-ngira bunga kecil yang terselip di telinganya. Bunga yang
sekilas sama yang iya bawa dengan ranjang kecil ketika di stasiun. Dia berdiri
dalam di tengah keramaian orang-orang, aku berhenti berlari terpaku untuk
menatap matanya yang sayu. Aku tak paham mengapa keadaan berubah sedemikian
rupa, menyadari bahwa gadis tersebut sedang berada di tengah-tengah keramaain
orang-orang begitupun aku, seprti sebuah perhelatan atau pesta rakyat, sebuah
festival bunga dimana-mana memenuhi sekitaran gadis itu dan diriku. Kini
keramain CFD berubah menjadi sebuah festifal bunga yang sangat meriah, dengan beraneka
jenis bunga berwarna-warni aneka jenis kreasi benda yang berbentuk bunga yang
didominasi oleh bunga yang sama yang terselip di telinga gadis itu.
Gerobag-gerobag penuh bunga, hula-hula rangkai bunga, becak bunga, kuda
berbunga serta delman dengan kusir yang lengkap berbaju serba-serbi bunga dan
wangi semerbak di mana-mana.
Kemudian segerombolan orang-orang yang
berjalan mengganggu pandanganku, aku mencoba tak terkecoh oleh rombongan
tersebut namun tetap saja ketika segerombolan orang-orang itu hilang gadis itu
juga ikut ilang lenyap bersama.
Aku terpelongo sendiri di tengah keramaian
orang-orang yang berjoging ria. Keadaan kembali seperti biasa, tak ada bunga,
kereta bunga, becak, delman,kuda gerobag, semua menghilang yang ada hanya gerobak
es dan minuman, para badut, pengamen, dan manusia yang berlarian kecil dengan
topi kansasnya. Aku merasa bingung seperti alien yang baru saja tiba di
tengah-tengah keramaian kehidupan yang belum dikenal.
Aku putuskan untuk kembali berlari kecil
sesekali lari cepat menyelip orang-orang yang terlihat malas-malas padahal
mungkin lebih malas diriku. Ingatanku masih terus dibayangi sosok barusan yang
hilang muncul- hilang muncul. Semakin kesini ingatanku semakin kuat aku ingat bunga
yang terselip di telinganya aku memahami wangi bunga itu, mungkin aku bisa
melacak bau-bauan yang yang akan ditemui. Mungkin pada para seniman jalanan
yang sedang beraksi, barangkali sang gadis menyamar menjadi salah satu dari
mereka.
Badut charly caplin dengan muka bercat putih berkumis
kecil, tak tercium bau bunga itu pada bedak yang digunakanya berarti dia bukan
sosok gadis yang aku cari. Kaki-kaki telanjang si pemain ondel-ondel atau paling
rajin memakai sandal jepit yang memprihatinkan, tipis, buluk, dan berkeringat.
Ah mana mungkin si gadis itu bersembunyi di dalam ondel-ondel.
Walaupun CFD kali ini sempat mengecewakan
karena aparat polisi kota menginformasikan lewat pengeras suara dari mobil
patrol mereka bahwa untuk sementara CFD minggu ini ditiadakan. Ah saya tidak
memperdulikanya dan kelihatnaya orang-orangpun demikian, mengabaikan perintah
polisi, duduk-duduk di pinggiran bunderan kolam sambil sebagian menjajajkan
daganganya. Baru kali ini saya mengalami ikut kegiatan ini sampai dibubarkan
pada saat belum waktunya karena tahun-tahun sebelumnya selalu ramai tidak
semengecewakan ini.
Ketika sedang berlarian kecil aku dibuat
penasaran kembali oleh sebuah kerumunan. Orang-orang nampak ramai menontoni sesuatu.
Apa mungkin gadis misteriusku menjadi model di sana? Entah lah! Setelah aku
teliti ternyata seorang laki-laki yang sudah berumur sedang melakukan sebuah
demonstrasi, sebuah sulaman. Sulaman itu nampak indah ada berbagai macam gambar;
harimau, burung, ikan, pohon, dan yang membuat aku tak menyangka yang sedang
didemonstrasikanya adalah menyulam sebuah gambar bunga. Bunga berwarna oranye
yang barusan aku lihat terselip di telinga si gadis misteriusku.
Si bapak penyulam itu nampak lihai memainkan
jarum sulamnya, membuatku ikut terlena manakala bunga tersebut nampak semakin menarik
seakan menebar bau wangi yang nyata. Kini aku merasa seperti kehilangan diriku.
Si bapak tua malah berganti menjadi gadis bergaun oranye. Walaupun gadis
tersebut tidak memperlihatkan wajahnya, aku yakin dialah gadis misteriusku. Di sekitaran
seketika juga ikut berubah menjadi sangat indah, ramai dengan kain-kain yang
tergantung di tali-tali yang membentang. Kain berwarna-warni seukuran sapu
tangan bergambar aneka hasil sulaman. Di sekitaran terlihat sangat menikmati
suasana, duduk-duduk di sana-sini mendemonstrasikan sulaman; tua muda ,
laki-laki perempuan, semua hanyut dalam acara tersebut. Di sisi lain terdapat
model-model yang sedang menari dengan anggun memakai baju hasil sulaman dengan
diiringi lagu yang dinyanyikan oleh seorang wanita. Aku terpaku oleh gadis
penyulam, mataku semakin sayu memandanginya bersama alunan lagu yang merdu.
Bong,,,,,, tiba-tiba aku tersedar manakala
waktu berganti sebegitu cepat, gadis si penyulam itu menghilang entah kapan,
tertinggal diriku sendiri berdiri dalam bengongan. Menyadari bahwa keadaan tak
seindah dalam mimpi kilat tadi. Tak ada festival, tak ada gadis penyulam, tak
ada pula penari yang diiringi nyanyian yang ada bapak tua itu sedang
memanggil-manggilku.
Kembali aku merasa semakin aneh,nmanakala orang-orang
yang tadi berkerumun beramai-ramai kini telah menghilang bubar entah kapan,
tinggalkan aku berdiri sendirian dalam kebingungan.
Dengan terpaksa karena malu aku memutuskan
untuk bergabung bersama bapak tua itu lalu duduk di sebelahnya. Aku menyadari
bahwa yang terjadi padaku barusan mungkin memang hanya lamunan semataku, bayangan
yang dibuat-buat atas diriku yang tidak mampu menghilangkan sosok gadis
misterius itu.
Setelah mengobrol ngalor-ngidul dengan si
bapak tua, atas gambar bunga yang ia rajut dalam kain yang masih terjepit dalam
pembidangnya itu. Kata bapak tua, motif bunga yang dirajutnya namanya bunga
pukul empat atau biasa aku menyebutnya bunga esuk sore. Sang bapak tua itu juga
membawa beberapa kuntum bunga pukul empat di ranjangnya, karena hari masih pagi
bunga masih terlihat mekar dan segar. Aku ingin bertanya mengapa bapak tua itu
menyulam bunga pukul empat berwarna oranye. Sebelum aku sempat bertanya aku
dibuat kagum dengan hasil sulamanya yang lain. Ada sulaman bunga pukul empat berwarna
merah, kuning, pink dan kombinasi dengan motif dan desain yang berbeda pula.
Kini aku malah menhabiskan hariku di cfd bersama
bapak tua itu hingga menjelang siang. Sampai akhirnya bapak itu mengajaku untuk
ikut pergi ke perpustakaan sebentar. Sebentar di perputakaan berarti beberapa
jam dan kami keluar hingga menjelang sore disaambut langit jingga yang mengiringi
sang raja siang pulang ke peraduanya di langit timur.
Diiringi alunan lagu senja yang mendayu
ketentraman di langit timur, aku memberanikan diri untuk menceritakan semua
yang menggangu pikiranku selama ini, yang pada awalnya bertemu dengan si gadis
bergaun merah di stasiun yang membuatku terus mengingatnya dan hari-hari
berikutnya aku malah merasa menjadi aneh seakan hidupku selalu di ikuti
bayang-bayang gadis misterius yang suka memakai bunga pukul empat di telinganya.
Namun entah apa yang bapak tua itu pikirkan,
tanpa memberi alasan yang pasti malah langsung memberiku saran. Merasa senang
karena diberi saran sekaligus bingung antara percaya atau tidak. Bapak itu
berkata bahwa aku harus tetap berdoa kepada tuhan yang maha esa atas segala
keselamatanku, terhindar dari segala yang membahayakanku, selanjutnya ia juga
berkata sebaiknya aku menunggu kembali di stasiun pertama bertemu. Sang bapak
mengusulkanku untuk datang di hari selasa siang menuju sore. Bagaimana dia bisa
memberi saran begitu cepat padaku dan siapa dia sebenarnya.
Tepat pada hari selasa aku datangi kembali
stasiun tempat dimana pertama kali aku bertemu, tentunya dengan di barengi doa
yang dipanjatkan di setiap sholatku.
Selama hampir dua jam lebih saya menunggu kedatangan
gadis bergaun merah ditemani laptopku di dekat tempatbiasa aku menunggu. Dengan
hati yang risau dan tak sabar bisa segera bertemu lagi denganya. Sampai
menjelang sore aku merasa hampir putus asa, menunggu tiada pasti. Kelihatanya
masih tak ada tanda-tanda gadis bergaun merah, putih atau oranye itu akan
datang.
Aku mencoba tetap bersabar menunggnya kembali,
bermain dengan si layar lebarku berharap bisa mengalihkan keresahan. Sekitar
pukul empat kurang indraku serentak berkontraksi seperti sebelumnya, mungkin
semacam sinyal. Bulu hidungku menegang seakan udara penuh dengan aroma bunga
pukul empat, bulu kuduk berdiri layaknya rumput yang menyambut sesuatu yang
datang, telingaku kembali berdendang oleh suara kaki yang berjalan begitu merdu
sedang mendekat. Aku bisa merasakan aura itu kembali datang kepadaku, aku yakin
gadis misterius itu datang kembali. Ketika aku mendongak memandangi sekitaran di
depanku dugaanku salah besar tidak ada gadis itu, ia tidak datang yang ada
hanyalah kehampaaan peron-peron stasiun satu dua orang yang sedang menunggu
kereta. Aku benar-benar merasa lelah dan kuputuskan untuk menyudahi semua.
Ketika aku sedang akan membereskan laptopku tanpa diduga sesosok
wanita menyapaku, aku mendongak lalu terpelongo. Gadis bergaun merah itu kini
muncul di hadapanku, bergaun oranye dan coklat berjilbab dan bermata biru
sambil menenteng sekaranjang kecil bunga.
Ia tersenyum lalu menyapaku, aku tidak bisa
menggambarkan bagaimana perasaanku, terlalu senang, tak percaya, dan tak bisa
di jelaskan dengan kata-kata. Kali ini aku harus memastikan bahwa gadis itu
tidak boleh lagi lepas begitu saja.
Kembali ia duduk di sebelahku, aku semakin
merasa tak sabar untuk mengatakan semua kepadanya. Mata cerahnya berbinar,
bibirnya yang merah segar membentuk garis senyum yang manis, wajahnya segar
sumringah bagai bunga pukul empat yang barusaja mekar. Aku masih belum mengerti
mengapa dia masih lebih memilih duduk di lantai sepertiku ketimbang di kursi
yang sudah di sediakan pihak stasiun.
Caranya berbicara mengingatkanku seperti tempo
hari. Saat itu juga aku hampir tak bisa lagi menahan apa yang ingin saya
tanyakan, tak ingin menahan terlalu lama takut sang waktu tak memberiku
kesempatan. Namun sebelum aku berani untuk menanyakannya lebih dulu, mataku tertuju
pada keranjang kecil berisi aneka bunga-bunga yang anehnya sebagian didominasi
bunga pukul empat beraneka warna.
“hei apa kabar” kata gadis
yang melihatku setengah melongo memandanginya
“oh hai juga, kau yang
kemarin itu kah yang bergaun merah?”
“kamu masih mengingatnya?”
Aku yang setengah tak percaya
bahwa gadis itu juga masih mengingatku
“kau membawa sekeranjang
bunga?” kataku heran dan penasaran
“yah,,
“untuk apa?”
“untuk ibu dan adiku, kami
sekeluarga sangat menyukai bunga pukul empat bahkan nama ibu dan kami berdua
diberi nama bunga ini”
“kalo boleh tahu dimana ibu
dan adikmu?”
“di tempat yang mengagumkan, apa
kamu ingin ikut?”
“kemana?”
“ke suatu tempat yang begitu
damai penuh ketenangan”
Segera aku membereskan laptopku
yang sedari tadi tertunda terabaikan sejak kehadiran si gadis itu. Tak lama aku
dan dia menunggu kereta sesekali ngobrol sebentar keretapun datang.
Kami berdua naik kereta lalu
turun di stasiun kebayoran, dari sana di sambung lagi dengan bajaj untuk menuju
lokasi akhir. Perjalanan tak lama bajaj berhenti di depan sebuah gapura. Gapura
besar bertuliskan pemakaman umum jeruk purut kebayoran lama.
Kamipun masuk ke dalam komplek yang mencakup
banyak kuburan yang tertata rapi, sepanjang perjalanan aku tak berbicara
apa-apa begitupun si gadis itu, semua menjadi bisu. Aku bingung sekaligus penasaran
tapi tak sanggup bertanya kepadanya.
Hingga akhirnya tiba di sebuah makam, sebuah
makam yang letaknya hampir di pojok komplek, kuburan itu nampak terawat dengan
baik berteduhkan sebuah pohon perdu yang
cukup besar menjadikan makam tersebut teduh dan betah untuk duduk berlama-lama
di situ. Di bawah pohon perdu tersebut juga terdapat sebuah tanaman yang
sepertinya bunga pukul empat beraneka warna.
Gadis itu duduk di salah satu sisi sebuah
makam lalu menaruh bunga yang dibawanya. Ia menaburkan bunga-bunga itu di dua
buah kuburan. Terbaca di batu nisannya
yang satu bertuliskan wafat pada 19
0ktober 87 dan yang kedua pada 23 maret 1997 kedua kuburan tersebut
sepertinya perempuan.
Setelah cukup lama memanjatkan doa tanpa suara
hening begitu tenang, kedamaian yang nyata di tempat itu. Gadis itu mulai
berbicara dan menceritakan dua makam yang di hadapanya itu. Satu adalah ibunya
yang berpulang terlebih dahulu dan yang satunya lagi adalah adiknya yaitu
saudara kembarnya yang menyusul ibunya. Kedua orang tersayangnya sama-sama meninggal
dalam kecelakaan kereta kebayoran. Ibunya meninggal dalam tragedy bintaro dan
adiknya meninggal dalam kecelakaan kereta kebayoran. Kematian adiknya cukup
memilukan, pada saat itu dia sedang dalam kasmaran jatuh cinta kepada seorang
laki-laki dan ingin segera melangsungkan pernikahan namun ayah menolaknya
dengan alasan belum cukup umur karena baru akan menginjak enam belas tahun.
Pada saat jingga dalam keadaan suasana hati yang tidak stabil ia berlari dengan
niat pergi ke pemakanan ibunya naas pada saat dia meyebrang rel kereta tidak waspada
tengok kanan kiri sebuah kereta yang sedang melaju kencang merampas nyawanya
dan tewas seketika itu juga.
Pada saat itu setelah mendengar cerita dari
gadis tersebut aku memberanikan diri untuk menceritakan hari-hariku ketika
pertaama kali bertemu denganya, tentang bayangan gadis bergaun putih dengan
rambut tergerai juga sosok wanita yang menghampiri tidurku. Yang membuatku
kaget adalah si gadis tersebut mengaku tidak pernah menemuiku kembali pada hari
setelah kali pertama bertemubegitupun hari-hari berikutnya atau berpergian
dengan gaun putih tanpa hijab.
