PUISI#9DnNt(2)
KERIKIL & RANTING
(karya Doni dan Neni)
(karya Doni dan Neni)
Katamu, kau suruh aku bertanya pada kerikil atau ranting
patah yang jatuh di tanah,
bahwa mungkin saja
mereka bisa jadi punya pesan yang disembunyikan
Aku turuti perintahmu untuk menanyakan pada mereka,
Kerikil mengatakan ingin terlempar ke dasar danau terdalam supaya
tak jadi alasan terjatuhnya seseorang
Sementara rantingpun demikian, mengharapkan dahan yang
menjadikannya kuat
Tapi kau bilang kerikilmu berkata lain. Katanya, biarlah terlihat seperti adanya, kerikil tak
berguna, kerikil yang belapis debu.
Memang kadang ia ingin menceburkan diri ke danau tapi hal
itu ia patahkan kembali bahwa akan ada seseorang yang menyadari dia bukan
kerikil biasa, dia hanya perlu dimengerti oleh orang yang mengerti yang akan
mampu membuat kerikil berdebu itu menjadi batu kecil yang berkilau luar biasa.
Dan ranting-rantingmu selalu berkecit padamu, pesan-pesan
yang jelas bahwa ada begitu banyak hal yang tidak saya tahu tentang ibu mereka
Walaupun hujan turun mencoba memberiku isyarat yang
dititipkan oleh kerikil tentang bahasa kerinduan yang ingin ditemukan. Namun
sayang, butir hujan belum mampu menghapus debu yang membutakan kilaunya
Dan kau juga tahu bahwa nyanyian rintik hujan masih belum
cukup untuk meluluhkan hati sang kerikil, hujan perlu bersekongkol dengan sang
waktu, Sebab sekarang sang ruang bersama sang kerikil
Aku menyerah pada jejak langkah terakhir yang tak dapat
kutemukan titik cahaya yang kau sebut kilau itu.
Kau meyakinkanku lagi, mungkin aku lupa bahwa sang jejak tak
menyadari telah mengabaikan sang ranting patah yang sudah tak berdaya terdiam
dalam kebisuan
Saksi nyata dalam kesaksian kehidupan yang barusan kulewati
sedetik yang lalu.
Sampai pada akhirnya kau bilang,
Jejak dalam keresahan dan kebimbangan.
Jejak bingung dalam keletihan
Entah kemana jejak melangkah
Jejak kehilangan arah






